Sisi Gelap Acara Seremonial Berbalut Barokah

sosialisme 1
Kontributor : Tsaqib M.N. (pena) – Donorojo Jepara
(tsaqieebb_najm_)

Dua hari berselang setelah kita melewati peringatan Nuzulul Qur’an yang dipenuhi acara seremonial, tiba-tiba terbesit sebuah pertanyaan di pikiran saya: Mengapa kita harus merayakan Nuzulul Qur’an dengan kemasan seremonial? Apakah ada perintah khusus atau ada alasan kuat yang mendukung hal ini terus dilestarikan hingga sekarang? Menurut saya, acara seperti ini bisa menjadi sangat merugikan jika melibatkan iuran makanan atau minuman sebagai “jaminan” kelancaran acara terlebih jika beban tersebut jatuh kepada mereka yang kurang mampu secara finansial. Mungkin tidak masalah bagi mereka yang berkecukupan, tetapi bagaimana dengan mereka yang kesulitan? Apakah acara seremonial berkedok Nuzulul Qur’an ini benar-benar membawa keberkahan, atau justru menjadi beban? Tentu saja pernyataan ini bersifat subjektif dan memiliki banyak celah yang bisa diperdebatkan. Namun, sebagai warga NU (Nahdlatul Ulama), ada satu hal mendasar yang perlu kita renungkan lebih dalam, yaitu soal Barokah. Saya sepakat bahwa barokah adalah sesuatu yang nyata. Namun, seharusnya ada hal lain yang lebih layak kita lakukan saat momen Nuzulul Qur’an tiba, yaitu merealisasikan esensi dari ayat yang pertama kali turun: Iqra’ (Bacalah). Apakah perintah Iqra’ hanya tertuju pada membaca Al-Qur’an secara tekstual? Tentu tidak. Realisasi Iqra’ tidak hanya menuntut kita membaca Al-Qur’an, tetapi juga membaca segala hal di sekitar kita, membaca buku-buku pengetahuan, atau membaca keadaan sosial serta realitas masyarakat di sekitar kita. Esensi Iqra’ seharusnya mendorong kita untuk lebih peka terhadap kondisi tetangga yang barangkali sedang kesulitan memenuhi kebutuhan pokoknya. Jika kita merayakan turunnya Al-Qur’an dengan keriuhan seremonial, namun di saat yang sama kita menutup mata terhadap beban ekonomi yang kita timbulkan bagi warga miskin demi iuran konsumsi, bukankah itu berarti kita gagal ‘membaca’ pesan kemanusiaan yang dibawa Al-Qur’an? Alih-alih sekadar membuang energi pada acara simbolis, alangkah indahnya jika semangat Nuzulul Qur’an dialihkan pada aksi nyata: menyediakan akses bacaan bagi anak-anak yang kurang beruntung, atau menyantuni mereka yang kelaparan. Barokah yang sesungguhnya mungkin tidak terletak pada tumpukan nasi kotak di atas meja pidato, melainkan pada senyum mereka yang diringankan bebannya. Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk (Hudan) bagi manusia, dan petunjuk itu hanya bisa kita temukan jika kita mau berhenti sejenak dari kebisingan seremonial untuk mulai benar-benar membaca kondisi umat yang sebenarnya.
Share the Post:

Related Posts