Kontributor : Rifka Nafilatun Nafichah (Direktur Lembaga Pers PC IPPNU Jepara)
Di tengah ramainya percaturan konflik dunia yang mempertemukan Iran dengan Israel dan Amerika Serikat beserta sekutunya, satu hal yang menarik untuk diperhatikan adalah ketahanan Iran yang tampak tidak mudah runtuh. Sampai hari ini Iran belum juga lumpuh. Bahkan berbagai pernyataan dari elite militernya menunjukkan kesiapan menghadapi perang jangka panjang yaitu hingga sepuluh tahun.
Situasi ini terasa kontras dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang sempat menyebut bahwa perang dengan Iran bisa dituntaskan hanya dalam waktu dua hari saja. Realitas di lapangan tampaknya tidak sesederhana klaim politik tersebut.
Pada kenyataannya, Iran tetap berdiri. Bahkan setelah imam besarnya, Imam Khomeini, terbunuh dan terjadi pergantian kepemimpinan kepada Mojtaba Khomeini, negara itu tetap menunjukkan stabilitas militernya.
Jika menilik kembali sejarahnya, ketahanan Iran memang bukan cerita baru. Negara ini ditempa oleh pengalaman konflik yang panjang dan keras. Salah satu yang paling menentukan adalah Perang Iran–Irak (1980–1988) yang berlangsung selama delapan tahun. Perang tersebut dipicu oleh perebutan wilayah strategis Sungai Shatt al-Arab dan kepentingan minyak antara kedua negara.
Namun konflik itu tidak berhenti pada perebutan wilayah semata. Ia berkembang menjadi konflik identitas keagamaan antara Syiah dan Sunni. Iran sebagai negara dengan ideologi Syiah memiliki semangat untuk memperluas pengaruh ideologinya di kawasan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di negara-negara tetangganya yang mayoritas Sunni seperti Arab Saudi, Irak, dan Afganistan.
Dari sinilah konflik geopolitik Timur Tengah menjadi semakin kompleks. Peperangan diwarnai dengan kepentingan ideologi agama, politik kawasan, hingga ekonomi minyak dunia.
Iran sendiri tidak hanya berhadapan dengan negara-negara Sunni di kawasan, tetapi juga masuk dalam tarik-menarik kepentingan antara blok sekuler, komunis, dan kekuatan Barat. Dalam banyak kasus, hubungan-hubungan ini membentuk jaringan kroni dan kemitraan politik yang sebenarnya saling bertabrakan kepentingan.
Jika mengamati “dongeng panjang” dalam sejarah Iran, tidak berlebihan jika negara ini kemudian dipandang sebagai kekuatan yang cukup ditakuti di panggung geopolitik dunia. Terlepas dari berbagai label yang melekat pada identitas Syiah, termasuk tuduhan barat sebagai negara yang mendukung terorisme. Iran tetap menunjukkan keberanian politik yang jarang dimiliki negara lain. Iran bahkan sering dipandang sebagai satu-satunya negara Islam Syiah yang berani berhadapan langsung dengan kekuatan Barat.
Sebaliknya, banyak negara Sunni di Timur Tengah justru mengambil posisi yang lebih moderat dan pragmatis. Negara-negara seperti Arab Saudi, Irak, hingga beberapa negara Teluk sering kali berada dalam orbit keamanan Amerika Serikat.
Indonesia sendiri berada dalam posisi yang menarik. Sebagai negara dengan mayoritas Muslim berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah, Indonesia dikenal moderat dalam diplomasi internasionalnya.
Opini satir bahkan muncul ketika tempo hari Presiden Prabowo disebut sebagai “office boy” dalam agenda perdamaian global karena interaksinya yang tanpak kerdil dihadapan Donald Trump. Tentu istilah ini bersifat hiperbolik. Namun di sisi lain, ia juga menggambarkan bagaimana posisi negara berkembang sering kali harus bermain realistis dalam menghadapi kekuatan besar dunia.
Langkah seperti ini justru dapat dipahami sebagai bentuk perlindungan terhadap kepentingan nasional. Indonesia tentu tidak memiliki kekuatan militer yang sebanding dengan Amerika Serikat. Jika hubungan dengan kekuatan besar memburuk, yang terancam bukan hanya negara secara politik, tetapi juga keselamatan rakyatnya.
Menariknya, dinamika geopolitik global seperti ini kadang memiliki resonansi hingga ke tingkat lokal.
Jepara, misalnya, yang memiliki catatan tersendiri dalam kajian sosial keagamaan di Jawa Tengah. Di Desa Banjaran, Kecamatan Bangsri, terdapat komunitas Syiah yang cukup dikenal, terutama sejak berdirinya Pesantren Al-Khairat.
Keberadaan komunitas ini menjadikan Bangsri sebagai salah satu daerah dengan penganut Syiah terbesar di Jawa Tengah, yaitu mencapai 500 kepala keluarga pada tahun 2006 (Kartika, 2017).
Namun selama ini aktivitas Syiah di Jepara tidak tampil secara frontal. Sehingga hubungan sosial antara Syiah dengan Sunni di Jepara tetap berlangsung relatif toleran.
Meski demikian, sejumlah lembaga keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia tetap memberikan catatan kewaspadaan terhadap perkembangan ideologi Syiah. Bukan semata karena perbedaan teologis, tetapi juga karena beberapa varian gerakan Syiah di dunia memiliki kecenderungan ideologis yang cukup kuat dalam konteks politik negara.
Perlu diperhatikan bahwa di tengah situasi global yang sedang memanas ini, ketika Iran kembali menunjukkan taring militernya dalam konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Situasi ini dapat menjadi trigger bagi syiah di Indonesia.
Meskipun selama ini komunitas Syiah di Jepara dikenal relatif jinak dan hidup berdampingan dengan masyarakat Sunni. Namun sejarah geopolitik menunjukkan bahwa perubahan konstelasi global kadang dapat mempengaruhi dinamika identitas keagamaan di tingkat lokal.
Karena itu kewaspadaan tetap diperlukan. Bukan untuk menciptakan ketegangan baru, tetapi untuk memastikan bahwa perbedaan mazhab tidak berkembang menjadi konflik sosial yang mengancam stabilitas masyarakat.
_”geopolitik dunia boleh bergolak, tetapi kedewasaan sosial masyarakat lokal yang membawa apakah perbedaan berubah menjadi konflik, atau menjadi kekuatan untuk hidup berdampingan”_
Sumber:
Dokumenter Matahati Pemuda
Adnan, Muhammad. 2024. Kekerasan Berbasis Agama: Peta Konflik Agama di Indonesia. Semarang: Pustaka Bestari.
Kartika, Prima Ayu. (2017). Perkembangan Masyarakat Syiah di Dukuh Candi Banjaran Bangsri Jepara 1982-2016 M (Doctoral dissertation, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).

Bangun Generasi yang Religius: PAC IPNU IPPNU Kalinyamatan Sukses Gelar Pesantren Ramadhan 2026 di SMPN 1 Kalinyamatan
Kontributor: M. Fatkhur Rifqi Kegiatan Pesantren Ramadhan 2026 yang diselenggarakan oleh PAC IPNU IPPNU Kalinyamatan bekerja sama dengan SMPN 1
