Kontributor : Muarrikh al Hakim (Nahdliyyin Malang)
Baru-baru ini, muncul sebuah kritik yang mempertanyakan relevansi seremonial Nuzulul Qur’an dengan dalih beban ekonomi dan distorsi makna Iqra’. Penulisnya mengusulkan agar energi umat dialihkan sepenuhnya pada aksi sosial yang “nyata”. Sekilas, argumen ini terdengar sangat humanistis. Jika ditelaah ulang, kita akan menemukan sebuah pernyataan yang berisiko mengganggu upaya pelestarian ritual religi masyarakat dan meremehkan kedaulatan spiritual rakyat kecil. Tulisan ini disusun sebagai respons kritis sekaligus antitesis terhadap artikel berjudul “Sisi Gelap Acara Seremonial Berbalut Barokah” yang dipublikasikan di Pena Kartini.
Kedaulatan Spiritual di Balik “Islam Anda”
Kritik terhadap iuran makanan yang dianggap sebagai “beban” bagi warga miskin sebenarnya adalah cara pandang yang elitis dan patronistik. Di sini, kita perlu memanggil kembali pemikiran KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengenai konsep “Islam Anda”. Bagi Gus Dur, “Islam Anda” adalah wilayah tradisi dan ritus yang dimiliki oleh masyarakat awam sebagai manifestasi keyakinan yang mendalam.
Dalam buku Islamku, Islam Anda, Islam Kita (2006) Gus Dur menceritakan bagaimana masyarakat di Pasuruan atau Tuban datang ke acara haul dan rebana dengan menyewa truk dan membawa bekal dari hasil keringat sendiri. Mereka melakukan itu tanpa paksaan. Apa yang oleh intelektual dianggap beban, sebenarnya bagi rakyat adalah “Happening”, sebuah peristiwa budaya di mana mereka merayakan eksistensi dan martabatnya di hadapan Tuhan. Menghilangkan hak mereka untuk berkontribusi dalam suatu seremoni demi alasan “kasihan” justru merampas kedaulatan spiritual mereka. Mereka bukan objek belas kasihan. Lebih dari itu, mereka adalah subjek yang berdaulat atas iman mereka sendiri.
Pluralisme Nilai vs Monisme Intelektual
Kritik tersebut terjebak dalam dikotomi palsu antara “seremoni yang sia-sia” atau “aksi sosial yang bermakna”. Dalam filsafat politik Isaiah Berlin melalui esainya Two Concepts of Liberty (1969), ini disebut sebagai bahaya Monisme, yakni keyakinan bahwa hanya ada satu cara benar dalam mencapai kebaikan.
Berlin menawarkan Pluralisme Nilai.
Memberikan santunan sebagai pengganti seremoni adalah nilai utama (ultimate value), tetapi merayakan turunnya kitab suci dengan kemeriahan selawat dan kebersamaan ritual juga merupakan nilai utama yang tak kalah sahnya. Memaksa umat untuk meninggalkan ritual demi rasionalitas ekonomi tidaklah dibenarkan. Sebagaimana kata Berlin, “Menyadari validitas relatif dari keyakinan seseorang, namun tetap teguh memegangnya, adalah pembeda antara manusia beradab dan seorang barbar.” Menghargai cara rakyat merayakan Nuzulul Qur’an adalah tanda kedewasaan dalam beragama.
Ritus sebagai Penggerak Kebaikan Sosial
Kita harus mendefinisikan ulang makna Iqra’. Membaca realitas bukan berarti hanya melihat angka kemiskinan, tetapi juga membaca kebutuhan ruhani masyarakat. Penelitian terbaru mengenai Living Qur’an menunjukkan bahwa nilai budaya dalam peringatan Nuzulul Qur’an justru berfungsi sebagai hal positif yang memotorisasi (motorize) umat Islam untuk melakukan kebaikan-kebaikan lainnya.
Seremoni semacam Nuzulul Qur’an adalah perwujudan konkret dari bahan bakar sosiologis. Dari kegembiraan kolektif bertajuk seremoni itulah, kohesi sosial terbangun dan karakter moral direvitalisasi. Tanpa energi spiritual dari ritus ini, aksi sosial akan kehilangan ruhnya dan berakhir menjadi kegiatan filantropi yang dingin. Ritus adalah cara masyarakat merevolusi konsep-konsep langit menjadi tindakan kolektif di bumi yang lebih terang dan membebaskan.
Barokah dan Kebisingan yang Berarti
Barokah memang tidak terletak pada tumpukan nasi kotak, namun ia nyata dalam keterhubungan batin antarmanusia. Al-Qur’an melekat sekali dengan sifat Huda (petunjuk) dan Syifa (obat). Sebagai petunjuk, ia memang menuntut aksi nyata. Namun sebagai obat, ia diterjemahkan dalam harmoni selawat dan aroma nasi tumpeng yang dimakan bersama.
Pada Akhirnya, Kebenaran dalam “Islam Anda” didasarkan pada keyakinan yang jauh dari kalkulasi ekonomi. Nuzulul Qur’an akan tetap lestari dalam kemeriahannya. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa dalam praktiknya, terkadang muncul tekanan sosial tak tertulis di masyarakat. Namun, menghapus keseluruhan tradisi dan menyebutnya sebagai kesia-siaan hanya karena alasan kecil tersebut adalah langkah yang ahistoris. Pada akhirnya, di balik kebisingan seremonial itu, menyala percikan api Islam Nusantara yang sepatutnya dilestarikan sebaik-baiknya.
Daftar Pustaka
Berlin, I. (1969). Two concepts of liberty. Dalam Four essays on liberty (hlm. 118–172).
Oxford University Press.
Maulana, D. S. (2025). Al-Qur’an dan ritus budaya (Analisis living Qur’an dalam peringatan Nuzulul Qur’an di tengah masyarakat Indonesia).
El-Waroqoh: Jurnal Ushuluddin dan Filsafat, 9(1), 93–107. https://doi.org/10.28944/el-waroqoh.v9i1.1863
Maulana, N. (2025).
Nuzulul Quran sebagai momentum revitalisasi moral sosial umat. Jurnal Ilmiah Penelitian Mahasiswa, 3(6), 945–950.
https://doi.org/10.61722/jipm.v3i6.1784
Pena Kartini. (n.d.).
Sisi gelap acara seremonial berbalut barokah. Diakses pada 24 Mei 2024, dari https://penakartini.or.id/sisi-gelap-acara-seremonial-berbalut-barokah/
Wahid, A. (2006). Islamku, Islam Anda, Islam Kita: Agama masyarakat negara demokrasi. The Wahid Institute.

Bangun Generasi yang Religius: PAC IPNU IPPNU Kalinyamatan Sukses Gelar Pesantren Ramadhan 2026 di SMPN 1 Kalinyamatan
Kontributor: M. Fatkhur Rifqi Kegiatan Pesantren Ramadhan 2026 yang diselenggarakan oleh PAC IPNU IPPNU Kalinyamatan bekerja sama dengan SMPN 1
