Seni dalam Nafas Peradaban: Pesan Besar Harlah Lesbumi ke-64

whatsapp image 2026 04 12 at 00.47.29

Kontributor : Abdullah Kafabih (Direktur Lembaga Pers dan Penerbitan PC IPNU Jepara)

Jepara, 11 April 2026 – Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-64 Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi NU) menjadi momentum reflektif sekaligus afirmatif bagi peran kebudayaan dalam membangun peradaban bangsa. Dalam rangkaian acara Malam Gelar dan Orasi Budaya yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Lesbumi Jawa Tengah di Jepara, para tokoh agama dan budayawan berkumpul untuk menguatkan kembali posisi seni dan budaya sebagai fondasi kehidupan berbangsa.

Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya KH. Jadul Maula selaku Ketua Lesbumi PBNU, Ky. Dr. Fahsin M. Fa’al sebagai Sekretaris PWNU Jawa Tengah, KH. Charis Rohman Ketua Tanfidziah PCNU Kabupaten Jepara, serta Ki Suryoningrat dari Lesbumi PWNU Jawa Tengah. Kehadiran mereka menambah khidmat suasana yang sarat nilai spiritual dan kebudayaan.

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan Saptawikrama dan Syi’ir Carakawalik yang menggugah kesadaran akan pentingnya nilai-nilai luhur dalam kehidupan masyarakat. Pembacaan tersebut menjadi simbol pengingat bahwa tradisi dan kearifan lokal adalah bagian tak terpisahkan dari identitas bangsa.

Dalam orasi kebudayaan yang disampaikan, KH. Jadul Maula menegaskan bahwa peradaban tidak dapat dilepaskan dari budaya. Menurutnya, seni merupakan ekspresi yang hidup dalam konteks budaya, sekaligus menjadi medium untuk membentuk cara berpikir manusia. “Budaya adalah proses membangun manusia agar mampu berpikir, merasakan, dan mencipta. Dari sanalah peradaban besar bertumpu,” ungkapnya.

Beliau juga menyoroti bahwa capaian tinggi suatu peradaban sangat ditentukan oleh kekuatan budayanya. Namun, dalam refleksi Harlah Lesbumi ke-64 ini, ia mengingatkan bahwa Indonesia saat ini tengah menghadapi krisis kebudayaan. Hal ini ditandai dengan kurangnya perhatian serius terhadap pengembangan nilai-nilai budaya sebagai pilar utama kehidupan berbangsa.

Lebih lanjut, KH. Jadul Maula mengungkapkan bahwa hingga kini Indonesia belum memiliki forum besar seperti muktamar kebudayaan nasional, padahal kekayaan budaya Nusantara merupakan kekuatan besar yang seharusnya menjadi arus utama pembangunan. “Ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Kita memiliki warisan budaya yang luar biasa, namun belum dikelola secara strategis dalam kerangka peradaban,” tegasnya.

Dalam konteks tersebut, Lesbumi dipandang memiliki tanggung jawab moral dan kultural untuk memberikan makna, arah, serta kontribusi nyata terhadap penguatan kebudayaan di Indonesia. Peran ini tidak hanya sebatas pelestarian, tetapi juga pengembangan budaya agar tetap relevan dengan dinamika zaman. Peringatan Harlah ke-64 ini pun menjadi ajakan bagi seluruh elemen masyarakat untuk kembali menempatkan seni dan budaya sebagai nafas peradaban. Melalui penguatan nilai-nilai budaya, diharapkan Indonesia mampu membangun peradaban yang tidak hanya maju secara material, tetapi juga kaya secara spiritual dan kultural.

Share the Post:

Related Posts