Menakar Langkah Kartini di Abad ke-21

img 8997

Oleh Muhammad Wildan Hakim (Mahasiswa Sejarah Universitas Negeri Malang)

Citra dan Selayang Pandang Tentang Kartini

“… Jikalau sekiranya tanah Hindia betul-betul hendak dimajukan, bukanlah laki-laki saja, tetapi perempuan-perempuan bangsa Bumiputera pun wajiblah dimajukan pula, karena daripada perempuanlah keluar bermula-mula pendidikan akan anak-anak yang kelak akan menjadi besar. Oleh sebab itu haruslah pula perempuan beroleh pendidikan yang baik dan berbudi pekerti yang sempurna.”

Begitulah buah pikiran R.A. Kartini, dalam risalah yang dibukukan dengan tajuk “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Raden Ajeng Kartini, atau yang biasa disebut dengan R.A. Kartini, adalah satu dari banyaknya perempuan gemilang yang dilahirkan di negeri ini. Ide, serta curahan hatinya, seolah menjadi obor, mewakili segenap perempuan zaman itu perihal pentingnya kesetaraan. Kartini merupakan anak kedua dari lima bersaudara, yang tumbuh dalam lingkungan ‘ningrat’. Kartini, selayaknya perempuan Jawa lain, hidup dalam masyarakat yang kala itu menjunjung tinggi adat istiadat setempat. Adat istiadat masa itu, dipandangnya sangat keras dan terlalu membatasi gerak perempuan. Berbagai fasilitas yang ada kala itu, seperti halnya pendidikan, dikhususkan kepada kaum lelaki saja, dan seolah meminggirkan kaum perempuan. Perkara itu tentunya membuat hati Kartini gundah, sebab menurutnya, jika kemajuan hanya diperuntukkan kepada kaum lelaki, untuk apa kaum perempuan diciptakan? Apakah perempuan dicipta untuk pemuas hasrat saja? Tentu saja jawabnya tidak. Ide semacam inilah, yang dilihat masyarakat masa itu sebagai ide yang radikal, sejatinya adalah pikiran yang revolusioner. 

Belakangan saat Hindia Belanda berubah menjadi Indonesia, ide-ide miliknya mulai diterapkan. Pemerintah kemudian menetapkan aturan-aturan yang membebaskan perempuan dari belenggu adat istiadat. Kaum perempuan, seperti yang ia dambakan, seharusnya mampu tegak berdiri, berani mempertanyakan keadaan, serta cekatan. Hal ini sebagaimana tertuang dalam risalahnya:

“Saya sangat beringin hendak berkenalan dengan seorang “gadis kaum muda”, anak gadis yang cakap dan sanggup tegak sendiri, yang cepat kaki ringan tangan serta berani menentang kehidupan dengan hati yang riang dan pikiran yang suka, lagi dengan gembira dan keras hatinya bekerja, bukan untuk keuntungan dan keselamatan dirinya sendiri saja, tetapi suka mengorbankan diri akan guna keperluan dan keselamatan orang banyak juga.

​Itulah anak gadis yang saya sukai. Saya beriang hati, bersuka ria, menyambut zaman yang baru, bahkan saya dapat katakan, yang saya, kalau menilik pikiran dan perasaanku, tak hidup lagi bersama-sama dengan bangsa Hindia, melainkan adalah pikiran dan perasaanku itu sesuai betul dengan saudara-saudaraku bangsa kulit putih yang masuk kaum kemajuan di tanah Eropa yang jauh.”

Namun, jika sosok ‘anak gadis kaum muda’ yang didambakan Kartini itu kini benar-benar telah lahir dan tumbuh di abad ke-21, di tengah riuhnya demonstrasi mahasiswa dan perdebatan gizi nasional, bagaimanakah sang penggerak dari Jepara ini akan memandang mereka?

Di zaman ini, ide Kartini perihal kesetaraan memang sudah diterapkan. Banyak lini kehidupan masa sekarang, umumnya diisi oleh kaum perempuan. Contoh konkretnya adalah industri tembakau atau rokok, disana banyak ditemukan pegawai-pegawai muda berjenis kelamin perempuan. 

Akan tetapi, perlu kiranya penulis mengandaikan, “Bagaimana jika Kartini hidup di zaman ini dengan bayangan idealnya perihal kesetaraan gender? Apakah ia akan menjadi pegawai pabrik? Atau dengan segala yang dimiliki, Kartini akan seperti kaum perempuan lainnya, yang bermain X dan Instagram, dan menulis pikirannya disana, alih-alih menuangkannya dengan pena? Apakah Kartini akan turun kejalan menyuarakan protesnya, sebagaimana perempuan yang ikut demo besar-besaran pada Agustus kemarin? Akankah Kartini setuju dengan program pemenuhan gizi dari pemerintah? Atau Kartini hendak membuka dapur MBG sendiri? Sekiranya dia mendapat untung 6 juta perhari.”

Kartini Sebagai Influencer Mumpuni

Pertama, Kartini ialah perempuan muda yang progresif dan tak hanya mementingkan diri sendiri. Dalam poin ini, tentu hal yang paling mungkin ia lakukan adalah menyebarkan pengaruh dan idenya. Kemudian pada masa ini, perilaku tersebut lazimnya dilakukan oleh Influencer. Jadi bisa dibilang, andai Kartini hidup di zaman ini, pastilah ia menjadi Influencer, yang bergerak merangkul kaum perempuan terpinggirkan. Penulis juga berandai, mungkin jika demikian, akun media sosial Kartini tentunya sudah mendapatkan centang biru.

Kartini Melawan Kekangan Ekonomi

Kedua, tugas Kartini sebagai influencer tentunya akan sangat berat. Kesetaraan dan kemandirian yang diidamkan oleh Kartini bisa jadi diselewengkan oleh pihak tertentu. Dalam kasus ini, karena penulis adalah seorang perokok, maka akan mengambil studi kasus perempuan yang menggantungkan hidupnya di pabrik rokok. Dalam beberapa kasus, tak jarang pegawai perempuan itu bekerja karena tekanan ekonomi. Beberapa dari mereka bahkan bersuami, yang mungkin saja nafkah dari suaminya kurang cukup bila digunakan hidup sehari-hari. Nah, yang dimaksud penulis disini ialah bagaimana Kartini dapat menggunakan suaranya untuk mengangkat derajat perempuan yang ditekan ekonomi itu. Tentu saja hal yang gampang baginya untuk mengangkat isu ini.

Kartini Sang Orator Elegan

Ketiga, Kartini sangat pro terhadap kemaslahatan masyarakat. Bisa jadi, bila ia hidup di zaman ini, ia akan sering turun ke jalan, menuntut keadilan bagi rakyat kecil yang dimarjinalkan oleh aturan. Lebih-lebih, tunjangan wakil yang lebih besar daripada yang “diwakili” akan dianggap tak masuk akal oleh Kartini.

Kartini dan Sikapnya Terhadap Makan Bergizi Gratis

Keempat, Kartini bisa jadi setuju dengan program makan gratis tersebut, apalagi yang merasakan dampaknya secara langsung ialah anak-anak dan ibu hamil. Program ini sejalan dengan buah pikirannya, yang mengedepankan perlindungan terhadap kaum perempuan dan anak-anak. Namun, Kartini akan tetap memantau jalannya program semacam ini, agar nantinya tiada terjadi penyelewengan. Kemudian bila terjadi penyelewengan, ia akan menjadi wanita terdepan dalam melawan ketidakadilan itu.

Penutup

Andai Kartini hidup hari ini, ia tetaplah sosok yang sama, seorang pemberontak yang elegan. Ia tetap bertarung di medan laga masa kini, baik itu di lantai pabrik, di barisan demonstrasi, maupun dalam hiruk pikuk media sosial. Kartini hari ini adalah pengingat bahwa “Habis Gelap Terbitlah Terang” bukan sekadar slogan, melainkan kerja keras untuk memastikan tak ada lagi nalar yang digelapkan oleh ketidakadilan.

Daftar Pustaka

​Badan Gizi Nasional. (2025). Pedoman teknis distribusi makanan dan edukasi gizi pada program makan bergizi gratis bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita non-PAUD (Nomor Juknis: 005/05/02/SK.05/05/2025). Diambil dari https://www.bgn.go.id/juknis/QJnRJr-pedoman-teknis-distribusi-makanan-dan-edukasi-gizi-pada-program-makan-bergizi-gratis-bagi-ibu-hamil-ibu-menyusui-dan-anak-balita-non-paud

​Irfani, F. (2026, 12 Maret). Ketika negara menangkap anak-anak muda setelah demonstrasi Agustus 2025 – ‘Pemburuan terbesar sejak Reformasi 1998’. BBC News Indonesia. Diambil dari https://www.bbc.com/indonesia/articles/ckgzzg08899o

​Kartini, R. A. (1922). Habis gelap terbitlah terang: Boeah pikiran (Empat Saudara, Terj.). Batavia: Balai Poestaka.

Share the Post:

Related Posts